Lewati ke konten utama
Harga & Pasar2 menit baca

Strategi Pemerintah Dongkrak Harga Telur Melalui Makan Bergizi Gratis (MBG) Dinilai Kurang Efektif

Penulis Sun Egg TeamDiterbitkan 12 Agustus 2026
#harga#telur#MBG#peternak#ayam
Telur ayam tersusun dalam rak karton di lapak pasar tradisional.
Gambar arsip artikel

Harga telur yang sempat anjlok beberapa bulan terakhir disebut-sebut terjadi akibat oversupply dan terhentinya program Makan Bergizi Gratis (MBG). Meski MBG saat ini telah beroperasi kembali, nyatanya harga telur belum juga menunjukkan pemulihan yang signifikan. Rata-rata harga telur masih berkisar Rp22.507/kg yang bahkan belum menyentuh harga acuan telur di tingkat peternak sebesar Rp24.000/kg dan Harga Acuan Pembelian (HAP) sebesar Rp26.500/kg. Hal ini menandakan bahwa daya serap MBG masih belum cukup untuk menghadapi oversupply yang terjadi saat ini.

Daya serap program MBG masih belum memadai untuk mengikis besarnya surplus produksi telur nasional. Program ini hanya menyerap sekitar 10% dari total produksi nasional. Produksi telur nasional saat ini mencapai 7,3 juta ton, sedangkan kebutuhan hanya berkisar 6,4 juta ton. Total surplus telur mencapai 900.000 ton. Melihat surplus yang mencapai ratusan ribu ton, penyerapan telur lewat MBG dinilai tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap kenaikan harga secara keseluruhan.

Melihat permasalahan harga telur tak kunjung selesai, pemerintah mengambil langkah lanjutan. Langkah pemerintah dalam menstabilkan harga telur meliputi:

  • Optimalisasi Program MBG: Pemerintah berharap program MBG menjadi penyerap utama (offtaker) hasil produksi peternak lokal

  • Cadangan Pangan Pemerintah (CPP): Pemerintah sedang mengusulkan agar telur masuk dalam skema CPP.

  • Sikat Broker Nakal: Satgas Pangan dilibatkan untuk menindak broker yang sengaja membeli telur di bawah harga pokok produksi

Selain upaya untuk mengoptimalkan daya serap telur, pemerintah juga mencoba untuk menekan lonjakan harga pakan. Biaya pakan menyedot 60% dari ongkos produksi peternak. Hampir 30% bahan baku pakan masih bergantung pada impor, yang harganya terpengaruh oleh kurs dolar dan kondisi global. Melihat kondisi lemahnya rupiah dan kondisi global saat ini, tak bisa dipungkiri harga pakan melonjak drastis. Oleh karena itu, Kementan telah mendesak pabrik pakan untuk menunda kenaikan harga pakan hingga kondisi pasar telur membaik.

Pemerintah belum memberikan kepastian waktu secara spesifik mengenai sampai kapan harga pakan ini dapat ditahan, namun instruksi saat ini adalah menunggu hingga harga telur kembali stabil sesuai harapan. Sebagai langkah mitigasi, pemerintah mendorong koperasi peternak untuk memotong jalur distribusi dengan membeli bahan baku langsung dari importir atau pabrik pakan. Apakah langkah yang diberikan pemerintah saat ini sudah efektif dalam menstabilkan harga telur? Tanpa adanya sinkronisasi antara pengendalian produksi dari hulu hingga hilir, stabilitas harga telur akan sulit tercapai.

Sumber

Bagikan

Artikel Terkait

Preferensi cookie

Pilih cookie opsional yang boleh dipakai. Cookie penting tetap aktif untuk bahasa, aksesibilitas, dan keamanan.