Ketika melihat stok telur yang tersimpan di rumah atau warung, sering kali terlintas pertanyaan di pikiran kita "telur ini masih bagus nggak, ya?" "sudah lama disimpan apa masih aman dimakan?". Ketidaktahuan mengenai masa simpan yang tepat sering kali membuat kita ragu apakah telur tersebut masih layak dikonsumsi atau justru sudah membahayakan kesehatan. Oleh karena itu, yuk cari tahu lebih banyak terkait masa simpan telur segar!
Kenapa Telur Bisa Rusak Selama Penyimpanan?
Telur tergolong bahan pangan yang mudah mengalami kerusakan. Hal ini dikarenakan telur memiliki struktur fisik yang dapat berinteraksi dengan lingkungan luar, serta kandungan nutrisi yang tinggi menjadikan telur berpotensi sebagai media pertumbuhan mikroba. Berikut ini alasan utama kerusakan pada telur selama penyimpanan:
Proses penguapan (evaporasi) - Selama penyimpanan telur akan mengalami penguapan air dan gas melalui pori-pori kerabang. Hal ini menyebabkan kantong udara membesar, penyusutan berat telur, putih telur menjadi lebih encer karena penurunan kekentalan dan peningkatan nilai pH.
Aktivitas biokimia di dalam telur akan terus berjalan selama penyimpanan yang mengakibatkan penurunan kualitas nutrisi seiring berjalannya waktu
Kontaminasi mikroba - Sejatinya telur dapat membawa bakteri perusak seperti Salmonella sp, Pseudomonas, dan E. coli yang menempel pada kerabang telur. Bakteri tersebut dapat lebih mudah masuk melalui pori-pori yang membesar akibat penguapan atau melalui retakan halus pada kulit telur sehingga menyebabkan kontaminasi dan pembusukan pada telur. Semakin lama telur disimpan, maka penurunan kualitas dan peluang kontaminasi mikroba akan semakin parah.
Masa Simpan Telur Berdasarkan Tempat Penyimpanan
Masa simpan telur dapat dipengaruhi oleh kondisi tempat penyimpanan. Setiap tempat penyimpanan memiliki suhu dan tingkat kelembaban yang berbeda. Biasanya telur segar disimpan dalam dua kondisi, yakni diletakkan pada suhu ruang (24 - 28°C) dengan tingkat kelembaban berkisar 80% - 90 % atau diletakkan di dalam kulkas (4 - 7°C) dengan tingkat kelembaban antara 60 % dan 70 %. Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI), berikut masa simpan telur yang baik:
Telur segar yang disimpan suhu ruang (24 - 28°C) memiliki masa simpan maksimal 14 hari setelah ditelurkan. Setelah 14 hari telur segar cenderung memiliki resiko cemaran mikroba lebih tinggi dan melewati batas aman untuk dikonsumsi.
Telur segar yang disimpan di dalam kulkas (4 - 7°C) memiliki masa simpan yang lebih panjang dibanding suhu ruang, yakni maksimal 30 hari atau 4 - 5 minggu setelah ditelurkan.
Telur yang disimpan pada suhu rendah memiliki masa simpan yang lebih panjang. Suhu rendah pada kulkas dapat memperlambat laju reaksi biokimia dan menghambat pertumbuhan mikroba. Hal inilah yang mengakibatkan telur lebih awet ketika disimpan di dalam kulkas.
Solusi Bagi Pelaku Usaha dan Konsumen Telur
Setelah memahami masa simpan telur, diharapkan kita dapat menentukan lama waktu menyimpan telur yang tepat agar kualitas telur tetap optimal dan aman dikonsumsi. Bagi pelaku usaha telur segar perlu untuk memperhatikan perputaran stok telur kurang dari 14 hari di suhu ruang. Bagi konsumen telur sebaiknya segera mengonsumsi telur yang telah dibeli sebelum hari ke 14 atau segera simpan telur di dalam kulkas untuk dapat memperpanjang masa simpan telur.



