Fenomena Merosotnya Harga Telur
Harga telur ayam di Provinsi Jambi beberapa minggu terakhir terus mengalami penurunan drastis. Harga telur di peternak saat ini telah menyentuh angka Rp 1.240/butir untuk ukuran telur sedang. Berdasarkan data tren pasar, harga tersebut telah menunjukkan penurunan sebesar 20,51% hanya dalam kurung waktu sebulan. Ironisnya harga hari ini tercatat sebagai harga telur termurah di Jambi dalam satu tahun terakhir.
Fenomena anjloknya harga telur nyatanya tidak hanya terjadi di Provinsi Jambi saja namun juga sudah menjadi permasalahan nasional saat ini. Rata-rata harga telur di tingkat nasional saat ini berkisar Rp 21.311/kg. Harga telur di Jakarta berkisar Rp 20.500/kg dengan persentase penurunan bulan ini sebesar 15,3%, sedangkan di Jawa Barat dan Jawa Tengah tercatat harga telur berkisar Rp 20.300/kg.
Penyebab Turunnya Harga
Fenomena merosotnya harga telur ayam di pasaran saat ini dipicu oleh kelebihan pasokan telur (over-supply) yang tidak diimbangi dengan daya serap pasar. Pasokan telur yang melimpah membuat stok telur menumpuk dan harus segera dikeluarkan. Hal ini semakin diperparah dengan daya serap pasar terhadap telur yang rendah, sehingga memicu penurunan harga telur di pasar. Kementerian Pertanian sebenarnya telah mengambil langkah dengan mengajukan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) untuk meningkatkan intensitas penggunaan telur. Namun sepertinya langkah tersebut masih belum bisa terlaksana dikarenakan Agustina Arumsari selaku Wakil Kepala BGN menyatakan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan dihentikan selama libur sekolah saat ini. Terhentinya program MBG otomatis memutus salah satu saluran penyerapan besar bagi telur ayam yang pada akhirnya memperpanjang tren penurunan harga di tingkat peternak.
Dampak yang Dirasakan Peternak
Di saat harga jual telur merosot tajam, peternak juga harus menghadapi kenyataan pahit berupa kenaikan harga pakan ternak. Perlu diketahui bahwa pakan mengambil persentase hampir 60% dari total pengeluaran utama dalam peternakan telur. Hal ini tentunya membuat margin keuntungan semakin menipis bahkan memicu peternak mengalami kerugian. Jika penurunan harga telur terus berlanjut tanpa penanganan yang tepat, dikhawatirkan badai kerugian yang menimpa peternak akan semakin besar. Peternak akan semakin sulit dapat menjalankan atau bahkan mempertahankan usahanya. Oleh karena itu, diperlukan intervensi lebih akurat dari pemerintah selaku penentu kebijakan serta sinergi antar pelaku usaha dan masyarakat untuk menstabilkan kembali harga telur dan menjaga keberlangsungan industri peternakan telur saat ini.
